Apa itu variasi sifat fisik kayu menurut posisi batang? Variasi sifat fisik kayu menurut posisi batang adalah perbedaan kadar air segar, berat jenis, dan penyusutan yang terjadi antara pangkal dan tengah batang serta antara dekat empulur dan dekat kulit. Perbedaan ini menentukan stabilitas dimensi dan kecocokan kayu untuk produk tertentu.
Memilih kayu untuk komponen furniture sering bertumpu pada kesan umum. Jati dianggap kuat, mahoni dianggap halus, bagalunga dianggap ringan. Kesan itu tidak salah, tetapi kurang presisi. Tanpa angka kadar air, berat jenis, dan penyusutan, keputusan beli bahan tetap mengandalkan kebiasaan, bukan data. Studi terbaru di Jurnal Sylva Lestari yang terbit Januari 2026 memberi angka itu secara langsung.
Peneliti dari Forest Products Research and Development Institute Filipina menguji tiga spesies tropis secara sejajar: bagalunga (Melia azedarach L.), jati (Tectona grandis L.f.), dan mahoni (Swietenia macrophylla King.). Lima pohon per spesies diambil di Quezon Province, Filipina. Tiap pohon dipotong pada dua posisi aksial, pangkal dan tengah, masing masing sepanjang 2,4 meter. Cakram setebal 152 mm kemudian dibagi empat zona radial dari dekat empulur hingga dekat kulit. Total 240 spesimen diuji untuk kadar air segar dan berat jenis, serta 240 spesimen lagi untuk penyusutan, semua mengikuti ASTM D143. *"[This] study examined the variation in the physical properties of bagalunga (Melia azedarach L.), teak (Tectona grandis L.f.) and mahogany [across radial and axial positions]"* dan *"[Physical] properties were evaluated in accordance with the ASTM D143-2019 standard."*
Informasi — Angka kadar air, berat jenis, dan susut tiga kayu dalam satu tabel
Hasilnya menampilkan kontras yang jelas antar spesies. Kadar air segar atau green moisture content bagalunga tercatat 161,39 persen, tertinggi di antara ketiganya. Angka ini 57,0 persen lebih tinggi dari mahoni yang 89,76 persen dan 43,2 persen lebih tinggi dari jati yang 104,10 persen. Pada berat jenis atau specific gravity, urutannya terbalik. Bagalunga paling ringan 0,42, mahoni 0,50, jati paling padat 0,56. Penulis mencatat perbedaan antar spesies signifikan pada p sama dengan 0,001, sedangkan variasi di dalam satu spesies tidak signifikan.
Penyusutan dari kondisi segar ke kering tanur mempertegas perbedaan itu. Arah tangensial bagalunga menyusut 6,58 persen dan radial 4,50 persen. Jati menyusut tangensial 3,98 persen dan radial 2,73 persen. Mahoni paling kecil di tangensial 2,90 persen, tetapi radialnya 3,74 persen. Artinya bagalunga 49,2 persen lebih besar dari jati pada susut tangensial dan 77,6 persen lebih besar dari mahoni pada arah yang sama. Pada susut longitudinal, bagalunga 0,25 persen setara mahoni, sedangkan jati sedikit lebih tinggi 0,46 persen.
Konteks pembanding membantu menempatkan angka Filipina ini. Bagalunga 0,42 di studi ini lebih berat dari sampel Irak 0,36 dan Indonesia 0,41, tetapi lebih ringan dari Meksiko 0,55 dan Malaysia 0,52. Mahoni 0,50 sedikit di bawah India 0,53 dan Ghana 0,53, jauh di bawah Amerika Serikat 0,64. Jati 0,56 di atas Indonesia 0,53, Laos 0,52, dan Malaysia 0,48 menurut sitasi penulis. Kadar air segar mahoni 89,76 persen di sini juga lebih tinggi dari Ghana 75,29 persen, dan jati 104,10 persen lebih tinggi dari Malaysia 60,83 persen. Perbedaan lokasi tumbuh, umur, dan musim tebang ikut menjelaskan rentang ini.
Informasi — Pola radial dan aksial yang menentukan stabilitas
Angka rata-rata saja belum cukup. Studi ini memetakan perubahan dari pangkal ke tengah dan dari empulur ke kulit. Pada arah aksial, penyusutan volumetrik bagalunga stabil antara pangkal dan tengah. Jati turun 10,3 persen dari pangkal ke tengah, mahoni turun lebih tajam 28,6 persen. Pada arah radial, pola ketiga spesies konsisten. Kadar air segar turun dari empulur ke kulit, dengan penurunan 9,46 persen sampai 26,99 persen tergantung spesies. Berat jenis justru naik ke arah kulit. Bagalunga mencatat penyusutan radial dan volumetrik tertinggi di dekat kulit, sedangkan jati terendah di posisi yang sama.
Pola ini masuk akal secara anatomi. Kayu dekat empulur biasanya lebih muda, pori lebih terbuka, dan dinding sel belum sepadat kayu dekat kulit yang sudah lebih matang. Karena itu kadar air lebih tinggi di dalam dan berat jenis lebih rendah. Penulis juga mengaitkan kadar air tinggi dengan dinding sel yang lebih berongga dan sel yang lebih terbuka. Temuan penurunan kadar air dari empulur ke kulit bukan khas tiga spesies ini saja. Literatur yang dirujuk mencatat penurunan 26 persen pada spesies lain dan bahkan 90 persen pada Paraserianthes falcataria. Pola serupa terlihat konsisten.
Untuk praktik pemilihan material, penulis memberi klasifikasi yang lugas. *"[Based] on their physical properties, bagalunga, being dimensionally stable, is suited for non-structural applications, while mahogany can be used for structural applications, cabinetry, and furniture, and teak is optimal for high-value products."* Bagalunga yang ringan dan susutnya besar tetapi stabil secara aksial lebih cocok untuk aplikasi non struktural. Mahoni dengan berat jenis menengah dan susut tangensial paling kecil cocok untuk komponen struktural ringan, kabinet, dan furniture. Jati dengan berat jenis tertinggi dan susut relatif rendah tetap menempati posisi optimal untuk produk bernilai tinggi.
Ada detail yang sering terlewat. Mahoni dan jati mengalami penurunan penyusutan volumetrik dari pangkal ke tengah, sehingga papan dari tengah batang cenderung lebih stabil. Bagalunga tidak menunjukkan penurunan itu, sehingga pemilihan posisi batang kurang memberi keuntungan stabilitas tambahan. Di sisi radial, kayu dekat kulit pada bagalunga justru mencatat penyusutan tertinggi, sehingga risiko gerak dimensi tetap perlu diantisipasi meskipun berat jenisnya naik. Pada jati, kayu dekat kulit mencatat penyusutan terendah, kombinasi yang menguntungkan untuk panel yang menuntut kestabilan.
Kesimpulan
Tiga kayu tropis ini tidak berada pada tingkat yang sama secara fisik. Bagalunga membawa kadar air segar 161,39 persen dan berat jenis 0,42 dengan susut tangensial 6,58 persen. Mahoni berada di tengah dengan kadar air 89,76 persen dan berat jenis 0,50 serta susut tangensial paling kecil 2,90 persen. Jati mencatat 104,10 persen kadar air, berat jenis 0,56, dan susut tangensial 3,98 persen. Variasi aksial menunjukkan jati dan mahoni lebih stabil di tengah batang, sedangkan bagalunga stabil tetapi susut radialnya tertinggi di dekat kulit.
Untuk bengkel yang memakai jati sebagai bahan utama, data ini menegaskan keunggulan jati pada kepadatan dan keseimbangan susut. Untuk pertimbangan material alternatif, angka ini memberi pagar yang jelas. Bagalunga bisa dipakai untuk komponen non struktural yang tidak menuntut beban, mahoni untuk kabinet dan furniture struktural ringan, jati untuk produk bernilai tinggi yang menuntut stabilitas dan bobot. Keputusan tidak lagi mengandalkan kesan, melainkan angka pada posisi batang yang spesifik.
Pertanyaan Umum (FAQ)
Apa itu kadar air segar atau green moisture content? Kadar air segar adalah persentase berat air dalam kayu segar terhadap berat kering tanurnya. Kadar di atas 100 persen berarti berat air melebihi berat serat kayu itu sendiri, umum pada kayu berpori besar seperti bagalunga.
Apa itu berat jenis atau specific gravity pada kayu? Berat jenis adalah rasio berat kering tanur terhadap volume segar. Nilai 0,56 pada jati berarti lebih padat dari mahoni 0,50 dan bagalunga 0,42, sehingga cenderung lebih kuat dan lebih berat.
Kenapa penyusutan tangensial dan radial berbeda? Karena orientasi serat dan jari-jari kayu tidak seragam. Penyusutan tangensial yang searah lingkar tahun hampir selalu lebih besar dari radial yang searah jari-jari, sehingga papan bisa melengkung bila pengeringan tidak terkontrol.
Apa arti variasi aksial pangkal ke tengah batang? Papan dari pangkal dan tengah batang bisa punya stabilitas berbeda. Pada studi ini mahoni turun 28,6 persen dan jati 10,3 persen pada penyusutan volumetrik dari pangkal ke tengah, sedangkan bagalunga stabil.
Apa arti variasi radial empulur ke kulit? Kayu dekat empulur umumnya lebih basah dan lebih ringan, dekat kulit lebih kering dan lebih padat. Pada studi ini kadar air turun 9,46 sampai 26,99 persen dari empulur ke kulit, sementara berat jenis naik ke arah kulit pada ketiga spesies.
Kapan bagalunga, mahoni, dan jati masing-masing paling cocok? Berdasarkan kesimpulan studi, bagalunga untuk aplikasi non struktural, mahoni untuk struktural ringan kabinet dan furniture, jati untuk produk bernilai tinggi yang menuntut kepadatan dan stabilitas.
*Artikel ini disusun dari berbagai sumber terpercaya, riset akademik, literatur industri, dan pengalaman workshop, untuk menyebarluaskan informasi yang bermanfaat bagi industri perkayuan.*
Sumber Riset
- Marasigan, O. S., Daguinod, S. A., Melendez, D. K. B. M., Villareal, J. F. (2026). *Comparative Radial and Axial Variation in the Physical Properties of Bagalunga (Melia azedarach L.) and Two Plantation-Grown Wood Species*. Jurnal Sylva Lestari, 14(1), 60-79. https://sylvalestari.fp.unila.ac.id/index.php/JHT/article/view/1254/841
Like this kind of teak carving?
Browse our teak wood carved calligraphy collection. CNC-carved with ±0.1 mm precision, solid teak, hand-finished in Bandung.