Apa itu PEFC? PEFC, singkatan dari Programme for the Endorsement of Forest Certification, adalah sistem sertifikasi hutan global yang mengesahkan pengelolaan hutan lestari lewat standar nasional tiap negara anggota. Bedanya dengan FSC yang memakai satu standar global, PEFC bekerja sebagai payung bagi sistem sertifikasi nasional.

Angka yang dicatat PEFC dalam laman Facts and Figures cukup mencolok. Berdasarkan data gabungan PEFC dan FSC terbaru, PEFC mencakup sekitar 71 persen luas hutan tersertifikasi dunia. Skalanya besar karena PEFC merangkul pemilik hutan kecil dan keluarga lewat skema grup yang murah untuk diikuti.

PEFC tumbuh dari bawah, FSC dari atas

Cara kerja keduanya berbeda sejak lahir. FSC didirikan lebih dulu dengan satu standar internasional yang berlaku sama di semua negara. PEFC muncul belakangan sebagai respons pemilik hutan Eropa yang merasa standar global terlalu kaku untuk kondisi lokal. PEFC membiarkan tiap negara menyusun standar sendiri, lalu mengesahkan standar itu bila memenuhi persyaratan minimum global.

Model ini membuat PEFC berkembang cepat di negara berhutan luas seperti Kanada, Finlandia, dan Amerika Serikat. Pemilik hutan keluarga yang mengelola ribuan hektare bisa masuk lewat sertifikasi grup dengan biaya terbagi. Studi terbaru mencatat PEFC mensertifikasi sekitar 320 juta hektare hutan, atau 7,9 persen luas hutan global, sementara FSC di atas 200 juta hektare atau sekitar 5 persen.

Data ganda juga dicatat. Kedua organisasi menerbitkan angka joint PEFC-FSC soal sertifikasi ganda yang terus tumbuh, supaya tidak terjadi salah paham soal statistik. Sebagian hutan memegang dua sertifikat sekaligus karena pembeli di pasar berbeda meminta label berbeda.

Label sertifikasi membuka pintu pasar

Sertifikasi bukan sekadar stempel hijau. Di pasar Eropa dan Amerika Utara, label FSC atau PEFC menjadi syarat masuk rantai pasok besar. Pembeli furnitur, pengecer material bangunan, dan proyek konstruksi menuntut bukti bahwa kayu berasal dari hutan yang dikelola lestari dan bisa dilacak lewat chain of custody.

Laman PEFC mencatat sertifikasi memberi verifikasi independen atas pengelolaan hutan lestari dan sumber bahan yang bertanggung jawab. Perusahaan yang memegang chain of custody bisa menempelkan label pada produknya, dan label itu yang dibaca pembeli sebagai jaminan asal usul. Di pasar premium, tuntutan semacam ini makin menguat seiring berlakunya aturan seperti EUDR Uni Eropa yang mewajibkan bukti bebas deforestasi.

Indonesia punya jalurnya sendiri. Indonesian Forestry Certification Cooperation (IFCC), yang berdiri 9 September 2011, adalah anggota nasional PEFC. Di sisi lain, sertifikasi FSC di Jawa Timur terus bertambah dan mencapai 20.531 hektare. Keduanya berjalan paralel dengan sistem legalitas kayu nasional, dan sertifikasi pasar seperti ini sering kali melampaui persyaratan legalitas semata.

Sertifikasi bukan tanpa kritik

Catatan yang jujur perlu menyebut sisi lainnya. PEFC dikritik Greenpeace, The Wilderness Society, dan FERN soal audit yang dinilai cacat, ancaman terhadap keanekaragaman hayati, dan hak masyarakat lokal yang disebut terabaikan di sebagian hutan bersertifikat. Pada Desember 2025, Mongabay melaporkan PEFC dikecam karena mengesahkan perusahaan perkebunan Indonesia yang membuka habitat orangutan.

Kritik semacam ini bukan alasan membuang sertifikasi, tapi pengingat bahwa label tidak otomatis menyelesaikan semua persoalan tata kelola. Bagi pembeli, label adalah titik awal verifikasi, bukan akhir. Bagi produsen kecil, kabar baiknya adalah skema grup yang membuat sertifikasi terjangkau tanpa harus mengelola hutan konsesi raksasa.

Kesimpulan

PEFC menguasai sekitar 71 persen luas hutan tersertifikasi dunia lewat model pengesahan standar nasional yang ramah bagi pemilik hutan kecil dan keluarga. Bersama FSC yang mencakup ratusan juta hektare lainnya, kedua label ini menjadi bahasa umum perdagangan kayu global dan syarat akses ke pasar premium yang menuntut bukti kelestarian. Indonesia terhubung ke sistem ini lewat IFCC di sisi PEFC dan luasan FSC yang terus tumbuh. Kritik terhadap kualitas audit tetap ada dan layak diperhatikan, karena label bekerja paling baik bila dibaca sebagai awal verifikasi, bukan vonis akhir.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Apa beda PEFC dan FSC? FSC memakai satu standar internasional yang sama di semua negara, sedangkan PEFC mengesahkan standar nasional tiap negara anggota. Keduanya mensyaratkan audit pihak ketiga yang independen dan chain of custody untuk pelabelan produk.

Berapa luas hutan bersertifikat PEFC? Studi 2025 mencatat PEFC mensertifikasi sekitar 320 juta hektare atau 7,9 persen luas hutan global, sementara FSC di atas 200 juta hektare. Gabungan keduanya, PEFC mencakup sekitar 71 persen luas hutan tersertifikasi dunia.

Apakah sertifikasi wajib untuk ekspor kayu? Bukan kewajiban hukum di semua pasar, tapi banyak pembeli besar Eropa dan Amerika Utara mensyaratkannya. Aturan seperti EUDR yang berlaku akhir 2026 makin mendorong eksportir membuktikan asal usul kayu yang bebas deforestasi.

Bagaimana posisi Indonesia dalam sistem ini? Indonesia terhubung lewat IFCC sebagai anggota nasional PEFC sejak 2011. Sertifikasi FSC juga tumbuh, misalnya di Jawa Timur yang mencapai 20.531 hektare, berjalan berdampingan dengan sistem legalitas kayu nasional.

Disclaimer: Artikel ini dibuat berdasarkan dokumen riset dan pengalaman workshop, bertujuan menyebarluaskan hasil riset supaya berguna bagi industri furniture.

Sumber Riset

  1. PEFC International. Fakta dan angka sertifikasi hutan global. https://pefc.org/discover-pefc/facts-and-figures
  2. PEFC International. Apa itu PEFC. https://pefc.org/discover-pefc/what-is-pefc
  3. ScienceDirect. (2025). Does forest management certification halt forest loss at country level. https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S2666791625000132
  4. Wikipedia. Programme for the Endorsement of Forest Certification. https://en.wikipedia.org/wiki/Programme_for_the_Endorsement_of_Forest_Certification
  5. IFCC. Who We Are, Indonesian Forestry Certification Cooperation. https://www.ifcc-ksk.org/about-ifcc/who-we-are.html
  6. Mongabay. (2025). Green labeler PEFC under fire for certifying Indonesian firm clearing orangutan habitat. https://news.mongabay.com/2025/12/green-labeler-pefc-under-fire-for-certifying-indonesian-firm-clearing-orangutan-habitat/

Suka detail ukiran kayu jati seperti ini?

Lihat koleksi kaligrafi ukiran kayu jati kami. Diukir CNC presisi ±0,1 mm, kayu jati solid, finishing handmade di Bandung.

← Kembali ke Artikel