Sekitar 42,8% rumah tangga peternak sapi di Bojonegoro, Jawa Timur, mengombinasikan usaha ternak dengan pengambilan produk hutan. Mereka memungut kayu bakar, ranting jati, daun, dan hasil hutan bukan kayu lain untuk menopang kebutuhan harian.
Angka itu muncul dari survei 600 petani yang diterbitkan di jurnal Small-scale Forestry pada 2022. Para peneliti dari Universitas Wageningen dan mitra lokal memetakan bagaimana rumah tangga petani menyusun sumber pendapatan dari tanaman, ternak, hutan, dan pekerjaan di luar pertanian.
Hasilnya menarik: diversifikasi tidak selalu berkorelasi dengan kemiskinan. Yang paling menentukan adalah kombinasi aset yang dimiliki rumah tangga, bukan sekadar banyaknya sumber pendapatan.
Kenapa Petani Diversifikasi
Petani kecil di negara berkembang umumnya kekurangan modal. Mereka mengandalkan pendekatan produksi ekstensif, seperti memelihara ternak dengan biaya rendah, dan mengambil sumber daya hutan tanpa biaya.
Studi ini membedakan tiga tipe usaha peternakan sapi potong: pembibit (breeder), penggemuk (feeder), dan campuran. Pembibit memelihara sapi indukan untuk menghasilkan pedet. Penggemuk membesarkan sapi muda sekitar satu tahun lalu menjualnya ke feedlot. Campuran menggabungkan keduanya.
Sebanyak 77,3% responden adalah pembibit, dan 42,8% dari seluruh petani terlibat pengambilan produk hutan. Keterlibatan ini tidak berbeda antar tipe usaha. Dengan kata lain, akses ke hutan menjadi lapisan pendapatan yang tersebar merata, bukan milik satu kelompok saja.
Hasil Hutan sebagai Penyangga, Bukan Sumber Utama
Tanaman adalah sumber pendapatan terpenting bagi semua petani. Ternak sapi menempati urutan kedua dengan kontribusi 18 sampai 24% dari total pendapatan rumah tangga. Pendapatan dari hutan hanya menyumbang 3,6 sampai 9,4%.
Meski kecil, perannya penting. Pembibit yang lebih miskin justru paling mengandalkan hutan, baik untuk pakan ternak, kayu bakar, maupun kayu konstruksi sederhana. Hutan membantu mereka menghindari pengeluaran, bukan sekadar menambah pemasukan.
Pembibit yang miskin lebih bergantung pada sumber daya hutan. Sebaliknya, penggemuk yang lebih berorientasi pasar kurang bergantung pada hutan. Pola ini menunjukkan hutan menjadi penopang bagi rumah tangga yang belum punya cukup modal untuk diversifikasi ke sektor lain.
Aset yang Mendongkrak Diversifikasi
Regresi terhadap 14 variabel modal penghidupan menunjukkan hasil yang konsisten. Bagi pembibit, jarak ke lahan pertanian dan hutan berkorelasi positif dengan diversifikasi. Setiap tambahan satu kilometer jarak ke hutan menaikkan indeks diversifikasi sekitar 11,5 persen. Artinya, petani yang rumahnya jauh dari hutan lebih mungkin mencari sumber pendapatan non-pertanian.
Bagi penggemuk, kepemilikan ternak lain, sepeda motor, dan keanggotaan kelompok tani hutan berkorelasi positif dengan diversifikasi. Sepeda motor memberi mobilitas menjangkau pasar, sementara kelompok tani membuka akses informasi dan jejaring.
Pendidikan justru berkorelasi negatif dengan diversifikasi. Petani berpendidikan lebih tinggi cenderung spesialisasi pada tanaman, yang merupakan sumber pendapatan terbaik di daerah penelitian. Spesialisasi memang menguntungkan, tapi menambah risiko ketika harga komoditas berfluktuasi.
Kesimpulan
Data 600 rumah tangga menunjukkan diversifikasi penghasilan bukan sekadar soal banyak sumber, melainkan kombinasi aset dan akses. Hutan berperan sebagai penyangga bagi petani miskin, sementara aset seperti sepeda motor dan keanggotaan kelompok tani membuka peluang diversifikasi lebih luas.
Bagi petani jati rakyat, pelajarannya jelas: menanam jati sebagai tabungan jangka panjang bisa dilengkapi tanaman sela dan ternak sebagai penghasil pendapatan tahunan. Agroforestri dan sistem silvopastura yang memadukan pohon, tanaman, dan ternak menjadi cara menstabilkan pendapatan sekaligus menjaga tekanan ekologis pada hutan tetap terkendali.
Pertanyaan Umum (FAQ)
Apa itu diversifikasi penghasilan petani?
Strategi rumah tangga petani memperoleh pendapatan dari lebih dari satu sumber, misalnya tanaman, ternak, hasil hutan, upah tani, dan pekerjaan non-pertanian, untuk mengurangi risiko dan menstabilkan ekonomi keluarga.
Apa hasil utama riset 600 peternak sapi di Bojonegoro?
Tanaman menjadi sumber pendapatan terbesar, ternak menyumbang 18 sampai 24%, dan hutan 3,6 sampai 9,4%. Pembibit yang lebih miskin paling mengandalkan hutan, sementara diversifikasi tidak selalu berkorelasi dengan kemiskinan.
Mengapa jarak ke hutan memengaruhi diversifikasi?
Setiap tambahan satu kilometer jarak ke hutan menaikkan indeks diversifikasi sekitar 11,5 persen karena petani yang jauh dari hutan lebih terdorong mencari pendapatan non-pertanian.
Apa manfaat agroforestri bagi petani?
Agroforestri memadukan pohon, tanaman semusim, dan ternak dalam satu lahan sehingga pendapatan tahunan tetap ada sambil menunggu panen kayu jangka panjang.
Artikel ini disusun dari berbagai sumber terpercaya — riset akademik, literatur industri, dan pengalaman workshop — untuk menyebarluaskan informasi yang bermanfaat bagi industri perkayuan.
Sumber Riset
- Nugroho, E., Ihle, R., Heijman, W., & Oosting, S. J. (2022). *The Contribution of Forest Extraction to Income Diversification and Poverty Alleviation for Indonesian Smallholder Cattle Breeders*. Small-scale Forestry 21:417-435. https://link.springer.com/article/10.1007/s11842-022-09504-0
- Nugroho, E., Ihle, R., Oosting, S. J., & Heijman, W. (2023). *The role of forest extraction in the livelihood strategies of Indonesian smallholder cattle farmers*. https://journals.sagepub.com/doi/10.1177/00307270231161652
Suka detail ukiran kayu jati seperti ini?
Lihat koleksi kaligrafi ukiran kayu jati kami. Diukir CNC presisi ±0,1 mm, kayu jati solid, finishing handmade di Bandung.